Skip to main content
x
pkb
Muhaimin Iskandar, ketua umum DPP PKB menggagas 'Jas Hijau"

Muhaimin Iskandar Gaungkan 'JAS HIJAU' ke Seluruh Nusantara

jas hijau

Semarang , Dutawarta.com - KETUA Umum (Ketum) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) H Abdul Muhaimin Iskandar menegaskan arti penting Jas Hijau ( jangan sekali-kali hilangkan jasa ulama) dihadapan ratusan santri dan ulama di Jawa Tengah (Jateng).
 
"Jas Hijau kepanjangan dari jangan sekali-kali hilangkan jasa ulama,ini penting untuk kita pahami agar kita tidak pernah lupa jasa para ustad, kiai dan ulama yang telah mengorbakan segalanya untuk bangsa Indonesia," kata pria yang biasa disapa Cak Imin dalam acara 'Jas Hijau', Jumat (21/7/2017).
 
Lebih jauh lagi, kata Cak Imin, Jas Hijau merupakan rangkaian pengingat sejara sekaligus pengingat kondisi dunia. Dimana saat ini ulama, kiai, ustad kerap kali menjadi korban fitnah dan korban adu domba. Umat muslim pun saling bertikai, semua itu akan berujung pada perpecahan bangsa Indonesia.
 
"Itu semua tercermin dalam doa yang dihaturkan KH Munif Juhri. Hari ini doa yang paling tepat adalah, kita semua memohon agar tidak terjadi perpecahan dan saling fitnah antarsesama muslim dan bangsa Indonesia," tuturnya.
 
Berbicara mengenai esensi Jas Hijau, Cak Imin teringat  perjalanan PKB beberapa tahun lalu. Dimana PKB membuat sebuah film dan mempromosikan film pertama tentang perjuangan ulama, yaitu film Sang Kiai, lalu
ditindak lanjuti dengan resolusi jihat yang pertama, kemudian ikut Pemilu Legislatif.
 
"Alhamdulilah, seluruh rangkaian acara itu menjadi kado manis buat PKB. PKB berhasil menjadi partai Islam terbesar di Indonesia. Dengan didukung 12 juta penduduk. Kemenangan masih berlanjut dengan kemenangan Pilpres yang mengsung Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla," katanya.
 
Selanjutnya, kata Cak Imin, pemerintah mengakui dan menghargai perjuangan para kiai dan ulama , dengan diresmikannya Hari Santi Nasional (HSN). HSN sebagai penghargaan sejarah yang tidak pernah ditulis selama rezim sebelumnya. sehingga hari ini sejarah tercatat dengan rapi.
 
"Mulailah diajarkan bahwa bangsa ini lahir, merdeka dan menjadi NKRI adalah atas jasa dan pengabdian iklas serta tulus tanpa pamrih para ulama, kiai, para ustadz, ustadjah," katanya.
 
PKB, terang Cak Imin, memiliki gagasan baru setelah melihat perkembangan akhir-akhir ini, dimulai dari semangat keislaman yang tumbuh dan berkembang dengan pesat. Namun, sisi lainnya ada penumpang gelap yang membawa isu anti kristen, anti jihat, lama-lama anti kepada kiai ulama serta anti kepada seluruh ajaran Ahlusunnah Waljamaah.
 
"Ini harus disikapi. Saya berterimakasih atas gerakan Jas Hijau. Jas Hijau merupakan jawaban atas itu semua. Lagi-lagi, ulama dan NU menjadi solusi yang akan menjembatani pertentangan dan fitnah yang terjadi di seluruh masyarakat. Inilah Jas Hijau," cetusnya.
 
Kata Cak Imin, seperti yang ia duga, negara saat ini sedang mengakui sejarah, negara telah memberi penghargaan lewat HSN, tetapi belum kepada dasar utama yang dibutuhkan kiai dan umat. 
 
Ia menambahkan, jasa yang diberikan ulama, pengabdian tulus tanpa dibiayai negara, pengabdian tulus kepada rakyat. Ternyata belum sepenuh dihargai secara subtantif, terbukti masih ada kebijakan pemerintah yang tidak mengakui jasa para ulama, dengan berkedok Full Day School (FDS, red).
 
"Pada dasarnya, kebijakan itu tidak menghargai kerja keras, ketulusan ulama yang selama ini tidak pernah mengganggu pemerintah, tidak pernah merepotkan pemerintah, berjalan dengan partisipasi yang kuat membangun karakter, mendidik tauhid, mengajarkan syariat, mengajarkan akidah,  fiqih tanpa dibiayai negara. Mengajarkan cinta tanah air dan nasionalisme, tanpa merepotkan anggaran negara. Membangun guyuban anak
bangsa, menciptakan anak Indonesia yang kokoh," tegasnya.
 
Tiba-tiba tanpa ada satu alasan jelas, ujar Cak Imin, tanpa pertimbangan matan, FDS tidak mengakui pembangunan karakter yang dibangun para kiai dan ulama. Mereka langsung memvonis apa yang dilakukan ulama tidak berhasil.
 
"Yang harus dipertanyakan dari FDS adalah berapa jumlah anggaran, tentu tentu tidak sekuat bangunan budaya yang dibangun oleh umat melalui Madrasah Diniyah (MD)," katanya. 
 
Jasa Hijauh, tegas Cak Imin, mengingatkan pemerintah terutama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan jangan menghilangkan jasa ulama yang telah membangun karakter anak bangsa. 
 
"Kita memang belum pernah membanggakan itu semua, tapi jasa yang dibangun oleh ustad-ustad kita, kiai-kiai kita, buruh-buruh kita, tidak ada artinya di mata pemerintah. Bayangkan sekolah mekanistis, pertemuan formal terbatas, tidak mungkin mampu membangun karakter. Pertemuan formalitis, tidak tidak akan mampu  menggantikan pertemuan sosiologis yang bersahaja antara sesama murid dan guru pengkaji fiqih. Keiklasan dan ketulusan yang mendasari MD tidak akan seimbang hanya diukur dengan FDS yang bertentangan dengan filosofi pendidikan itu sendiri," katanya.
 
Cak Imin melanjutkan, di sebuah negara di Eropa, tingkat pendidikan menengahnya terbaik di dunia, dengan sengaja menggeser jam sekolah formal dan mengganti jam sekolah informalnya. Itu semua dilakukan untuk membangun karakteristik.
 
"Kok kita sebaliknya, dukungan kolektif, natural, tulus, tanpa beban,tanpa dihinggapi formalistas yang membelengu justru mau diberhangus," tandasnya.
 
Sementara itu, Ketua PWNU Jateng, Prof KH Abu Hafsin, PhD mengaku salut dengan pencipta gagasan Jas Hijau. Karena memang selayaknyalah PKB menjaga dan gelorakan jasa para ulama.
 
"Gagasan ini bagi saya luar biasa.Mohon maaf karana Rois Syuriah PWNU Jateng tidak bs hadir, beliau sedang berjuang menolak FDS, dengan sekolah 5 hari, berarti anak didik kalau sore berarti tidak bisa lagi sekolah madin," ujarnya.
 
Pernyataan Ketua PWNU Jateng diamini Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKB Jateng, KH Yusuf Chudory. Menurutnya, perjuangan para ulama sudah tidak terbantahkan, maka kewajiban  kader NU, kader PKB untuk terus menjaga marwah, menjaga kehormatan dan kelangsungan perjuangan para alim ulama.
 
"Untuk itulah, siang hari ini, poro kiai, pun aturaken santri- santri kita hadirkan, untuk bersama – sama, kita menyatukan langkah, menyatukan tekad, untuk menjaga kebesaran marwah para ulama, menjaga kebesaran Nahdlatul Ulama," tandasnya. (Rls)

Dibaca : 4Klik

Facebook comments